Saat Pertanyaan itu Datang

Saat Pertanyaan itu Datang

Di sekolah SMA ada kegiatan ekstrakulikuler yang wajib diikuti oleh seluruh siswa kelas x. Ekstrakulikuler Rohis. Ada nama khususnya di sekolah kami. Ekskul K**********I dari kegiatan itulah saya mengenal ridho Allah. Kalo tidak salah waktu itu sedang menjelaskan tujuan hidup, sebelumnya saya selalu bertanya-tanya kenapa saya harus ada di dunia? Kenapa saya harus lahir? Jikalau saya ujung-ujungnya masuk neraka? Saya tahu umat islam akan masuk surga, tapi ketika saya membaca Al-Quran terjemah bahwa kesuksesan yang sebenarnya adalah kesuksesan di akhirat yaitu bisa masuk surga. Dan Allah memberikan jawabannya ketika saya mendengarkan mentoring tersebut, bahwa tujuan manusia diciptakan tidak lain yaitu untuk beribadah kepada Allah.

”Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Q.S. Adz-dzaariyat : 56) Dan hakikatnya hidup manusia tidak lain hanya berharap ridho Allah Subhanahu Wata’alaa. Saya yang sebelumnya menganggap takdir hanya sebatas alur kehidupan, dan yg ada dipikiran saya waktu itu takdir yaa gini...., sehingga saya ini sebenarnya mau dibawa kemana? harus punya tujuan. Lalu saya merenunginya dan saya dapati, “Ok. Saya lagi di dunia dan apapun yang kamu lakukan hanya berharap ridho Allah. Semoga Allah ridho terhadap apa yang kamu kerjakan. Seperti kamu ikhlas melakukan sesuatu hal kpd seseorang, dan seseorang yang diperlakukan olehmu menerimanya dengan ikhlas. Oh, iyaya saat saya puasa. Puasa Senin-Kamis.” Baru saya ngeh, “kayak gitu loh...”
Terkadang banyak temen saya nggak pengen ikutan ekskul rohis walaupun sebenarnya wajib, bahkan sudah siap-siap kabur saling cepat-cepat pulang sebelum gerbang sekolah di hadang oleh kakak kelas terutama OSIS. Mungkin acaranya nggak seru, bosen, datar ngebawainnya. Pernah kegiatan mentor diisi oleh seorang ibu, dari segi menyampaikannya membaca. jadi ada beberapa yg duduk sambil tiduran, kipas-kipas, ngobrol dan lain sebagainya. Di hati saya coba kalau yang di depan orang tua kalian sedang menyampaikan sesuatu apakah kalian tega sambil ngobrol? Rasanya sedih sekali jika yang didepan itu ibu saya sedangkan saya melihat teman-teman berperilaku seperti ini. Akhirnya dalam hati saya berkata, “Ya Allah saya dengarkan dan saya perhatikan. saya berharap saya mendapatkan sesuatu yang bermanfaat, yang saya ingat dari pertemuan itu saya mengambil pelajaran adab berdo’a. Sebelum berdo’a salah satunya dianjurkan untuk bershalawat terlebih dahulu. Saya praktekin pakai sholawat yang ada ditasyahud akhir. Saya pengen baca 10 kali, saya hayati baru satu, dua, tiga, sampe selesai. Seakan-akan do’anya mau dikabul nggak yah? Subhanallah, beberapa kali saya berdo’a diawali sholawat Alhamdulillah terkabul. Saya inget banget, saya iseng berdo’a pengen roti bakar. Selesai sholat maghrib lalu dzikir, dan berdo’a “ya, Allah saya pengen roti bakar”. Setelah panjang lebar do’a yang lainnya. Qodarullah bapak saya dipanggil ada acara ditetangga, trus pulang-pulang dapat kresekan hitam. Saya buka, wah... ada roti bakar walaupun satu biji. Subhanallah. Bersambung....

Hikmah:
Perhatikanlah apa yang dikatakan bukan siapa yang berkata, sehingga kamu dapati sesuatu yang berharga untuk hidup didunia sebagaimana do'a yang terdapat dalam sebuah hadits "Ya Allah, perbaikilah agamaku yang merupakan pelindung urusanku. Perbaikilah duniaku yang disana aku hidup. Perbaikilah akhiratku yang kesana aku akan kembali. jadilah kehidupan sebagai penambah segala kebaikan, dan jadikanlah kematian sebagai perhentian dari segala keburukan." Diriwayatkan oleh Muslim.


Kamu punya cerita berhikmah lainnya dan ingin berbagi di sini? yuuk isi link berikut:
https://goo.gl/forms/QXjVXwfJqedFB7km1


Semoga tulisanmu menjadi manfaat bagi orang lain dan menjadi amal jariyah.. aamiin ya Robbal'alamin :)

Komentar

Postingan Populer